20 September 2008

Gelar Dulu Atau Kerja Dulu?

Kawan2 sekalian pasti pernah dong membaca iklan salah satu produk rokok yang bunyinya: "Daripada gak dapet-dapet kerja, mending gak dapet-dapet gelar." Lalu di bawahnya ada 2 pilihan yaitu "Gelar dulu" dan "Kerja dulu". Menurut gw iklan ini sangat menarik untuk dibahas. Kalau di-pikir2 awalnya mungkin lebih baik pilih "Kerja dulu" daripada "Gelar dulu". Tapi setelah gw pikir beberapa kali mungkin pilihan "Gelar dulu" juga cukup make sense. Mengapa demikian?

Di masa sekarang kalau kita tanya ke orang2 mungkin mereka akan mengatakan "yang penting dapet kerjaan dulu". Koran2 menulis bahwa pengangguran membludak di mana2. Saya sendiri juga melihat banyak sekali orang yang sudah lulus tapi masih pengangguran. Padahal dilihat dari sisi employer (pemberi kerja) banyak dari mereka yang kekurangan tenaga kerja. Lho kok? Saya sempat diskusi dengan beberapa employer untuk membahas hal ini. Jawaban mereka semua sama: para employer membutuhkan tenaga kerja yang terdidik/terlatih dengan latar belakang kompetensi yang sesuai dengan posisinya. Dan yang digarisbawahi dalam pernyataan ini adalah "kompetensi".

Sekarang ini perguruan tinggi (PT) menjamur di mana2 (sampai ada yang berbentuk ruko sekalipun). Namun semua PT itu menawarkan program studi yang bisa dibilang hampir sama (Manajemen, Akuntansi, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Hukum, dsb) tanpa spesialisasi yang jelas. Padahal yang dibutuhkan oleh employer tidaklah sesederhana itu. Yang dibutuhkan saat ini adalah program studi yang lebih bersifat terapan (bisa diaplikasikan langsung di dunia kerja). Hal ini yang saat ini gw rasa masih minim sekali di Indonesia. Wong materi kuliah saja bisa dipakai ber-ulang2 sampai lebih dari 5 atau bahkan 10 tahun tanpa di-update dan seringkali sudah ketinggalan zaman.

Berbeda dengan di luar negeri (gw ambil contoh Australia karena gw pernah kuliah di sana). Di sana jangankan materi kuliah, mata kuliahnya saja kadang2 bisa berbeda antara semester ini dan semester lalu padahal jurusannya sama lho). Karena mayoritas PT di sana selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan permintaan dunia kerja akan kompetensi yang dibutuhkan. Cara mengajar juga berbeda, kalau di sini kita kebanyakan dijejali oleh teori dari textbook, sedangkan di sana kita lebih banyak membahas teori dengan studi kasus.

Selain itu, program studi yang ditawarkan juga lebih banyak yang bersifat terapan, misalnya di jurusan manajemen ada manajemen perbankan, manajemen logistik, manajemen agribisnis, manajemen e-commerce, manajemen pemasaran, dll. Ini bukan berarti gw bilang pendidikan dalam negeri lebih jelek daripada Australia (gw sendiri lulusan S1 Universitas Atmajaya). Tapi yang jelas adalah pendidikan di sana lebih memfokuskan diri pada keahlian tertentu. Ibaratnya kalau mau menjadi specialist kuliah saja di Australia, tapi kalau mau menjadi "jack of all trades" (multiple proficiencies, but master of none) maka kuliahlah di Indonesia. Lebih bagus menjadi specialist atau jack of all trades? Jawabannya, tergantung. Yang pasti jack of all trades lebih bisa survive menghadapi perubahan ibarat bunglon yang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Specialist akan lebih sukses di dunia kerja profesional di mana tatanan lapangan pekerjaan sudah tertata dengan sempurna (misalnya perusahaan multinasional).

Lalu bagaimana dengan kisah sukses pengusaha yang berhasil meskipun tidak memiliki gelar (ada yang mungkin hanya lulusan SD atau bahkan tidak sekolah sama sekali)? Gw pernah membaca artikel yang mengatakan bahwa kunci kesuksesan seseorang tidak hanya tergantung dari keahlian, kepintaran, dan keberuntungannya tapi juga tergantung pada zamannya. Sebagai contoh katakan si A adalah seorang pebisnis yang sukses yang memulai karirnya di tahun 80-an. Nah, mungkin kalau si A memulai karirnya di tahun 2000-an seperti saat ini, bisa jadi ceritanya akan berbeda sama sekali. Mengapa? Karena banyak faktor eksternal yang membedakan misalnya:

  • Iklim dunia usaha yang berbeda (dulu lebih mudah mendapat kredit investasi, sekarang jauh lebih sulit)
  • Persaingan di pasar yang berbeda (dulu belum ada saingan, sekarang apa2 serba copy-paste alias banyak imitasinya)
  • Suasana politik yang berbeda (banyak bisnis yang terkait dengan politik)
  • Perbedaan peraturan pemerintah (apalagi dengan maraknya otonomi daerah)
  • Sekarang semakin banyak orang bertitel yang pintar & ulet
Jadi kesimpulannya adalah bahwa di zaman yang penuh tantangan seperti sekarang ini kalau memang kita memiliki kemampuan finansial untuk kuliah, maka kuliahlah. Tapi dengan tujuan utama bukan untuk mendapatkan gelar, tetapi lebih untuk memperkaya diri dengan ilmu (gelar hanyalah pelengkap belaka). Gw yakin sebagian besar (bukan berarti semua) orang yang berpendidikan lebih tinggi pada umumnya memiliki kesempatan untuk sukses lebih tinggi dibandingkan yang berpendidikan lebih rendah.

So, kembali ke topik awal, pilihannya "Gelar dulu" atau "Kerja dulu"? Kalau gw bikin pilihan baru yaitu "Perkaya ilmu dulu, baru kerja".

2 komentar:

  1. Agree!!!!!
    Neway, I learn new things loh everytime I read your blog.
    Meskipun ada game bnyk, ga pernah liat si jd ga tao mao comment hmk.. huehuehue....
    Keep blogging!!!! =)

    BalasHapus
  2. Kalo gitu ngeblog juga dong Jen, about cooking misalnya:)

    BalasHapus